Mirrored: 22nd of February 2012, 04:04 Original: cerita_silat.mywapblog.com Views: 16 Settings: Loading the mirror...
Link: alternate: Mobile/PDA CERITA SILAT | KHO PING HOO | CERSIL Mobile Blog PEDANG KAYU HARUM | KHO PING HOO | CERITA SILAT | SULING MAS | BU KEK SIAN SU | CINTA BERNODA DARAH | PENDEKAR LEMBAH NAGA | ISTANA PULAU ES | KHO PING HOO | RAJA PEDANG | 46 by CERITA SILAT | KHO PING HOO | CERSIL Mobile Blog on 01:51 AM, 22-Feb-12 CERITA SILAT | KHO PING HOO | RAJA PEDANG : ___by Saiful_Situbondo____ Setelah berulang kali menarik napas panjang, baru Kwee Sin bisa menjawab tanpa mengangkat mukanya, "Memang betul aku berada di Telaga Pok-yang pada beberapa bulan yang lalu....." "Berpelesir bersama seorang perempuan muda cantik anggauta Pek-lian-pai desak Kwa Tin Siong. "Bersama seorang teman perempuan...,." "Siapa dia? Hayo katakan terus terang, bukankah dia yang kauajak membunuh ayah Sumoi?" Kwa Tin Siong mendesak lagi, penuh amarah. Kwee Sin diam saja. "Kwee-sute, kehapa kau diam saja. Siapakah perempuan itu?" Bun Si Teng bertanya, suaranya mengandung kekecewaan. "Aku tidak bisa bilang dia itu siapa, sudah kukatakan temanku, cukuplah. Akan tetapi, dia dan aku tidak bersekongkol membunuh siapa pun juga." "Hah!" Kwa Tin Siong sekarang marah sekali, merasa yakin bahwa pemuda ini tentulah pembunuh ayah Sian Hwa. "Kau berpelesir dengan seorang perempuan rendah dari Pek-lian-pai, terlihat oleh calon mertua yang menjadi marah-marah melihat kelakuan calon mantunya yang hina. Kau merasa khawatir kalau-kalau namamu akan dinodai oleh perbuatan itu, khawatir kalau-kalau ayah Sumoi mengabarkan kelakukanmu yang tak patut lalu menyusul bersama perempuan rendah itu dan..... dan membunuhnya....." "Tidak'!" Kwee Sin berteriak keras. "Tidak sama sekali" "Kalau tidak, katakan siapa perempuan jalang itu!!" Sian Hwa juga berteriak marah, pedangnya sudah dicabut lagi. Kwee Sin melangkah mundur tiga langkah, wajahnya pucat sekali. Bun Si Teng dan Bun Si Liong saling pandang, lalu mereka menghampiri adik seperguruannya. "Sute, urusan ini bukan urusan remeh. Betapapun juga kau harus berani mendatangkan wanita itu untuk menjadi saksi bahwa kau tidak melakukan pembunuhan dan ...". "Apakah Suheng tidak percaya kepadaku?" "Akulah yang akan melawan orang yang mendakwa kau berbuat jahat, Kwee sute. Aku percaya penuh kepadamu, akan tetapi kalau tidak diberi saksi hidup, tentu Hoa-san Sie-eng masih penasaran....." "Ha-ha-ha, Kun-lun Sam-hengte benar-benar bagus!" Thio Wan It menyindir. "Seorang keedanan perempuan dan melakukan pembunuhan keji, kakak-kakaknya hendak membela. Wah, kaya gagah sendiri saja. Kalau perlu, Hoa-san Sie-eng sanggup membasmi sampai ke akar-akarnya!". "Bagus sekali Kami Kun-lun Sam-hengte, biarpun hanya bertiga, takkan mundur setapak biarpun dikeroyok disini!" Bun Si Liong juga mengeluarkan kata-kata mengejek. Kedua fihak lagi lagi sudah panas dan apabila mendapat dorongan sedikit saja pasti akan saling gempur. "Bagaimana, Kwee Sin? Kalau kau hendak menyangkal, kau harus bisa sebutkan nama perempuan yang menjadi kekasihmu itu, yang terlihat oleh ayah Sumoi. Kalau kau menyembunyikan namanya, berarti dia itu betul seorang Pek-lian-pai dan kau bersama dia membunuh ayah Sumoi." Kwa Tin Siong mendesak. Muka Kwee Sin pucat sekali. Tak mau dia menodai nama Coa Kim Li, seorang gadis yang cantik lagi gagah, apalagi yang telah menjatuhkan hatinya. Di lain, sudut, hatinya juga amat kasihan kepada bekas tunangannya yang kematian ayah, terbunuh orang-orang yang agaknya sengaja hendak memfitnahnya. Dan semua ini kesalahannya sendiri. Andaikata dia tidak tergila-gila kepada Coa Kim Li, kiranya takkan terjadi hal ini. Sekarang dia tidak saja membikin hancur penghidupan Liem Sian Hwa, juga dia merupakan ancaman bagi nama baik Coa Kim Li. Lebih daripada ini malah, sekarang dia menjadi biang keladi pertumpahan darah, biang keladi permusuhan antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. Hal terakhir inilah yang lebih hebat dan menghancurkan hatinya. "Hoa-san Sie-eng!" akhirnya dia berkata dengan suara keras. "Sekali lagi kutekankah bahwa aku tidak membunuh ayah Nona Liem! Tapi kalian tidak percaya dan mendesakku membawa-bawa nama orang yang tidak berdosa. Suheng sekalian! Kun-lun-pai jangan sampai bermusuhan dengan Hoa-san-pai, dan semua bahaya permusuhan ini adalah gara-gara siauwte yang bodoh. Oleh karena itu, biarlah siauwte menebus dosa. Heee, Hoa-san Sie-eng, kalau kalian tidak percaya kepadaku dan ingin melihat Kwee Sin mampus, biarlah kalian puas saat ini dan jangan merembet-rembetkan Kun-lun-pai dalam urusan ini!" Secepat kilat Kwee Sin menggerakkan pedangnya, dibabatkan ke lehernya sendiri! "Trang!!" pedang itu terlempar, tubuh Kwee Sin lenyap dan sebagai gantinya di situ menggelundung sebuah kepala orang. "Siluman betina, jangan lari!" tiba-tiba Lian Bu Tojin berseru dan tubuhnya berkelebat lenyap pula. Kwa Tin Siong dan tiga orang adik seperguruannya kaget memandang kearah kepala yang menggelundung tadi, dan alangkah marahnya hati mereka ketika melihat bahwa kepala itu adalah kepala seorang tosu Hoa-san-pai yang entah bagaimana telah dipenggal dan dilemparkan ke tempat itu. "Keparat jahanam orang-orang Kun-lun!" bentak Kwa Tin Siong. "Orang she Bun berdua, sekarang kalian mau bilang apa? Kwee Sin si keparat ternyata bersekongkol dengan orang jahat, buktinya dia ditolong dan malah murid Hoa-san-pai dibunuh. Kalian tentu bukan manusia baik-baik dan ikut sekongkol pula!" Dengan kemarahan meluap-luap Kwa Tin Siong lalu menerjang dua orang saudara Bun itu, dibantu oleh Thio Wan It, Kui Keng, dan Liem Sian Hwa. Empat orang saudara Hoa-san Sie-eng ini mengamuk dan mengeroyok Bun Si Teng dan Bun Si Liong. Kasihan sekali dua orang saudara Bun ini. Mereka sesungguhnya tidak tahu apa-apa dan tadi pun ketika Kwee Sin hendak membunuh diri, mereka sudah tak berdaya. Tahu-tahu Kwee Sin lenyap. Cara lenyapnya demikian ajaib sampai tidak terlihat oleh mereka. Sudah jelas bahwa Kwee Sin ditolong orang pandai. Akan tetapi siapa penolongnya dan meng-apa melemparkan kepala seorang tosu Hoa-san-pai? Mereka tak dapat membersihkan diri pula. Tentu saja orang Hoa-san-pai akan menganggap mereka ikut bersekongkol. Terpaksa Bun Si Teng dan Bun Si Liong mencabut senjata dan membela diri. Akan tetapi oleh karena dikeroyok empat orang dan fihak tawan lebih kuat, di samping itu karena memang mereka tidak dapat berkelahi dengan penuh semangat karena merasa pihak sutenya bersalah, maka akhirnya Bun Si Teng dan Bun Si Liong terdesak, dan menderita luka- luka. Namun orang gagah dari Kun-lun-pai ini dengan ilmu silat mereka yang tinggi masih terus melakukan perlawanan, atau lebih tepat disebut melakukan pembelaan diri yang gigih dan kuat. Pada saat itu, Kwa Hong berlari-lan ke tempat Beng San bekerja. Dengan napas terengah-engah Kwa Hong menarik tangan Beng San yang sedang menyapu lantai. "Beng San, mari lihat. Ayah dan semua sedang bertengkar dengan orang-orang Kun-lun-pai. Tentu akan bertempur!" Kaget sekali hati Beng San. Anak ini sudah mendengar dari Tan Hok tentang usaha jahat Ngo-lian-kauwcu yang berjuluk Kim-thouw Thian-li untuk memecah belah antara Pek-lian-pai, Hoa-san- pai dan Kun-lun-pai. "Kenapa mereka bertengkar. Apa sebabnya bertempur?" tanyanya, masih kurang mengacuhkan karena dipikirnya bahwa hal itu bukanlah urusannya, apalagi kalau diingat bahwa apa yang dia dapat lakukan terhadap urusan itu? "Kabarnya seorang Kun-lun-pai, tunangan bibi Sian, membunuh ayah bibi Sian Hwa. Sekarang dia datang bersama dua orang lagi dan cekcok dengan ayah dan semua paman guru. Juga sukong berada di sana. Hayo kita lihat!" "Nona Hong, kaulihatlah sendiri. Aku dilarang oleh sukongmu keluar dari sini, kalau aku berani keluar tentu mendapat marah pula." Beng San melanjutkan, kerjaannya, tidak peduli lagi. "Beng San, mereka sedang ribut-ribut mana memperhatikan kau? Marilah, kau temani aku keluar menonton." Beng San menggeleng kepala dan memandang kepada Kwa Hong, mengagumi sinar mata yang demikian tajam namun halus dan indah. "Nona Hong, kenapa kau selalu datang mengajak aku bercakap-cakap dan bermain-main? Sudah berapa kali kau dimarahi ayahmu? Lebih baik. kau seperti anak-anak yang lain, menjauhi aku karena aku hanyalah kacung dan kau dilarang mendekati aku." "Apa salahnya? Kalau aku suka bermain-main dan bicara denganmu, siapa melarang? Biar ayah marah, biar sukong mengamuk, aku tidak takut!" Gadis cilik ini membusung dada dan kepalanya tegak, matanya bersinar-sinar. Beng San memegang tangan. Kwa Hong, terharu sekali. "Nona Hong, mengapa demikian? Tak baik kalau kau dimarahi ayahmu dan sukongmu...... mengapa kau begini baik terhadapku seorang kacung, seorang jembel busuk, mengapa sikapmu tidak seperti yang lain yang selalu menghinaku?" Untuk beberapa saat sepasang mata dara cilik itu menatap wajah Beng San, lalu berkata lirih, "Entahlah..... aku merasa amat berkasihan kepadamu, Beng San....." Keduanya hanya berpegang tangan dan saling pandang tanpa mengerti apa yang mereka rasakan. Kemudian timbul kenakalan Kwa Hong yang memecahkan hikmat kesunyian itu sambil tertawa. "Agaknya karena kau seperti bunglon itulah yang membuat aku suka bermain denganmu, hi-hi-hi....." "Kuntilanak!" Beng San balas memaki. la mendongkol kalau dimaki bunglon. Kwa Hong tertawa sambil melepaskan tangannya. Pada saat itu tampak Kui lok, Thio Ki, dan Thio Bwee berlari-lari. Muka mereka agak pucat. "Mereka sudah bertempur!" kata Thio Ki terengah-engah. "Bekas tunangan bibi Sian Hwa itu lenyap secara aneh, seorang supek yang menjadi tosu dibunuh orang, kepalanya dilempar ke depan su kong. Sukong mengejar orang jahat. Hebat ..." Tanpa menanti sampai cerita ini berakhir, Kwa Hong sudah berlari-lari keluar hendak menonton, diikuti oleh tiga orang anak itu, para tosu Hoa-san-pai juga kelihatan berlari-lari sambil membawa senjata tajam. Keadaan Hoa-san- pai kacau-balau. Setelah ditinggal seorang diri Beng San termenung. la mendengar suara beradunya senjata tajam, dan telinganya yang sudah meniiliki pendengaran luar biasa itu mendengar angin sambaran senjata yang amat mengerikan itu. la tahu persoalannya. Mereka sedang berhantam, saling bunuh tanpa mereka sadari bahwa mereka itu diadu domba oleh pemerintah Mongol yang menggunakan Ngo-lian-kauw sebagai kaki tangannya. Ah, perlukah orang saling rnembunuh hanya menurutkan nafsu amarah belaka? Saling bunuh karena fitnah, padahal mereka itu adalah saudara-saudara sebangsa sendiri? Tak mungkin aku mendiamkan saja, menonton orang sebangsa saling bunuh, padahal kedua pihak adalah orang-orang gagah yang sudah memiliki nama besar sebagai pendekar-pendekar! Beng San melempar sapunya dan berlari cepat ke tempat pertempuran. la melihat betapa dua orang laki-laki yang melakukan perlawanan dengan gagah berani telah mandi darah dan terdesak hebat oleh pengeroyokan Kwa Tin Siong, Thio Wan It, Kui Keng, dan Liem Sian Hwa. Di atas tanah terletak kepala seorang tosu Hoa-san-pai. Keadaan benar-benar amat mengerikan. Mudah Beng San menduga siapa adanya dua orang gagah itu tentulah orang-orang Kun-lun-pai seperti yang tadi diceritakan oleh Kwa Hong. la melihat Kwa Hong berdiri agak jauh dengan Thio Bwee, agak pucat dan hanya menonton saja. Akan tetapi Kui Lok dan Thio Ki bertepuk-tepuk dan bersorak kalau dua orang itu terkena sambaran senjata seorang di antara Hoa-san Sie-eng. Di dalam hati Beng San timbul rasa penasaran. Kenapa main keroyok? la dapat menilai tingkat enam orang yangbertempur itu. Apabila pertempuran dilakukan satu lawan satu, barulah akan seimbang dan ramai. la melihat pedang di tangan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa amat berbahaya, dan sudah di beberapa tempat ditubuh kedua orang Kun-lun-pai itu luka-luka. "Hoa-san Sie-eng...... jangan lanjutkan pertempuran. Orang-orang Kun-lun tidak bersalah!" tiba-tiba Beng San tak dapat menahan dirinya lagi, berteriak-teriak dan melompat ke dekat pertempuran. Semua orang kaget sekali melihat ini, akan tetapi yang bertempur terus saja bertempur. Kui Lok dan Thio Ki marah sekali melihat sikap Beng San. Mereka berdua ini memang sudah merasa amat iri hati kepada Beng San ketika men-dengar pujian Kwa Hong dan Thio Bwee betapa Beng San dengan "gagah berani" telah menyusul dan menolong dua orang dara cilik itu ketika diculik orang. Se-karang mereka melihat Beng San berteriak-teriak, mereka mendapat kesempatan untuk melampiaskan kemarahan mereka. Dua orang jago cilik ini lalu menerjang maju ke arah Beng San. "Kacung busuk! Mau apa kau berteriak-teriak? Hayo kembali ke tempat kerjamu'" Dua orang jago cilik ini lalu memukuli Beng San, diturut oleh beberapa orang tosu yang juga tidak suka kepada Beng San. Terjadi keanehan ketika dua orang anak dan beberapa orang tosu ini memukul Beng San. Kui Lok dan Thio Ki menjerit kesakitan dan tangan kanan mereka patah tulangnya ketika memukul tubuh Beng San. Para tosu yang memukulnya kurang keras, juga berjingkrak kesakitan karena tangan mereka telah menjadi merah seperti terbakar, dan bengkak-bengkak! Tanpa mempedulikan mereka ini, Beng San langsung berjalan menuju ke gelanggang pertempuran. Dua orang saudara Bun itu sudah roboh mandi darah dan Beng San menubruk mereka sambil berseru. "Mereka tidak bersalah..... ah, pertumpahan darah terjadi hanya karena fitnah! Alangkah bodohnya, bermata seperti buta" Dengan sedih Beng San mengusapi darah yang mengucur keluar dari dada Bun Si Teng dan Bun Si Liong. "Dua orang pendekar gagah harus melepaskan nyawa hanya karena menurutkan nafsu belaka, hanya karena fitnah....." Bun Si Teng dan Bun Si Liong belum tewas, akan tetapi mereka sudah terluka parah dan hanya jiwa mereka yang gagah perkasa saja yang membuat mereka roboh tanpa mengeluarkan keluhan sakit sedikit pun juga! Melihat sikap dan kata-kata Beng San, Kwa Tin Siong kaget dan heran sekali. Apalagi ketika melihat betapa cucu-cucu murid Hoa- san, yaitu Kui Lok dan Thio Ki menderita patah tulang tangan sedangkan beberapa orang tosu lagi bengkak- bengkak tangannya. la makin curiga akan dugaannya bahwa Beng San bukanlah anak sembarangan dan mungkin sekali dari fihak musuh. Sekarang terbukti betapa Beng San menyedih jatuhnya dua orang Kun- lun-pai dan kata-katanya yang tidak karuan. "Beng San, apa maksud kata-katamu ini?" Kwa Tin Siong membentak sambil menghampiri dengan pedang di tangan. Beng San yang melihat bahwa dua orang Kun-lun-pai itu tak mungkin dapat tertolong lagi, segera bangkit berdiri dengan tegak. Matanya bersinar tajam menakutkan dan mukanya menjadi merah kehitaman. la membanting kaki ke atas tanah dan berkata. "Hoa-san Sie-eng, apakah kalian tidak melihat bahwa kalian telah membunuh orang-orang tidak berdosa? Kalian telah kena fitnah. Kwee Sin bukan orang yang berdosa, dia tidak membunuh ayah Nona Llem Sian Hwa. Semua ini memang diatur oleh pemerintah Mongol dengan bantuan Ngo-lian-kauw! Kwee Sin hanya mempunyai kesalahan kecil yaitu dia roboh oleh kecantikan ketua Ngo-lian-kauw. Yang membunuh ayah Nona Liem adalah kaki tangan Ngo- lian-kauwcu yang menyamar sebagai Kwee Sin dan sebagai orang-orang Pek-lian-pai. Ah, sayang orang- orang gagah sampai mudah tertipu!" "Bohong! Kau anak kecil tahu apa? Kau berfihak kepada Pek-lian-pai dan Kun-lun!" Kwa Tin Siong membentak marah. Tiba- tiba Bun Si Teng dah Bun Si Liong bergerak, Bun Si Liong tertawa terbahak-bahak lalu..... berhenti bernapas, mukanya masih tersenyum. Bun Si Teng dengan terengah-engah mengulurkan tangan, merangkul Beng San. "Aku puas..... kau benar anak..... kau benar. Siapa namamu...? "Aku Beng San," kata Beng San yang sudah berlutut di dekat Bun Si Teng. "Kau telah membersihkan nama Kwee-sute dan Kun- lun-pai. Terima kasih. Alangkah bodohku..... ha-ha-ha, bukan hanya Kun-lun Sam-hengte yang bodoh..... malah Hoa-san Sie-eng goblok, hanya menurutkan nafsu belaka..... Beng San, anak baik, kau anak luar biasa..... kau berjanjilah bahwa kelak kau akan mengamat-amati putera tunggalku..... Bun Lim..... Kwi....." Orang gagah itu menjadi lemas dan rohnya menyusul roh adiknya. Hoa-san Sie-eng berdirl terlongong. Mereka masih terpukul oleh keterangan Beng San, merasa ragu-ragu. Pada saat itu tampak bayangan orang berkelebat dan Lian Bu Tojin sudah berdiri di situ. "Ah, dia hebat..... tak terkejar olehku....." Tiba-tiba kakek ini mengeluarkan seruan kaget melihat tubuh Bun Si Teng dan Bun Si Liong rebah mandi darah dalam keadaan tak bernyawa pula. "Apa..... apa yang telah terjadi.....?" tanyanya, memandang kepada empat orang muridnya. Hoa-san Sie-eng tak dapat menjawab, masih bingung dan amat khawatir, kalau-kalau keterangan Beng San itu benar. Berarti mereka membunuh orang-orang yang tidak berdosa! "Beng San, kau lagi di sini? Apa yang kaulakukan di sini?" Lian Bu Tojin membentak lagi ketika melihat Beng San berlutut di depan mayat kedua orang saudara Bun itu. "Locianpwe, dua orang gagah dari Kun-lun-pai yang tidak berdosa ini telah dikeroyok dan dibunuh oleh murid-muridmu yang gagah!" kata Beng San dengan suara keras. Kemudian dia mengulangi lagi penuturannya yang tadi di depan ketua Hoa-san-pai. Kakek ini berubah air mukanya mendengar keterangan itu, akan tetapi dengan bengis dia lalu bertanya. "Bocah, dari mana kau tahu semua itu?" "Saya bertemu dengan orang-orang Pek-lian-pai dan merekalah yang menceritakan semua itu kepadaku." "Bohong kalau begitu. Orang-orang Pek- lian-pai itu jahat dan bohong!" seru Kwa Tin Siong penuh harap. Tentu saja dia tidak mengharapkan kebenaran keterangan Beng San, karena kalau benar terjadi hal demikian, berarti pihak Hoa-san-pai telah melakukan perbuatan yang kurang patut terhadap Kun-lun-pai. Lian Bu Tojin meraba-raba jenggotnya yang panjang. "Urusan ini amat berbelit- belit dan amat penuh rahasia. Keterangan bocah ini mungkin sekali benar, akan tetapi juga bukan mustahil dia dipergunakan oleh Pek-lian-pai untuk mengacau kita. Betapapun juga, kalian sudah terburu nafsu membunuh dua orang Kun-lun-pai ini. Keadaan sudah terlanjur begini, sungguh tidak menyenangkan sekali. Pinto sendiri masih ragu-ragu siapakah yang benar siapa yang salah. Kwee Sin ditolong dan dibawa pergi oleh seorang iblis wanita jahat, Hek-hwa Kui-bo. Terang bahwa ada pihak yang bersekongkol dengan Kwee Sin, tapi....." Tiba-tiba kakek itu berseru, "He, bocah, kau hendak lari ke mana?" Tubuhnya berkelebat ke depan dan di lain saat kakek ini sudah memegang lengan tangan Beng San yang hendak lari. "Aku mau pergi saja. Selain Hoa-san-pai tidak baik membunuh orang tak berdosa, Hek-hwa Kui-bo sudah datang, aku bisa celaka....." bantah Beng San. "Kau dicari Hek-hwa Kui-bo?" Lian Bu Tojin bertanya heran. "Semua orang jahat mencariku" "Kenapa?" Ketua Hoa- san-pai ini sudah menduga bahwa pasti ada rahasia aneh pada diri anak yang mencurigakan ini, maka dia takkan melepaskannya sebelum dapat mengetahui rahasianya. Tentu saja Beng San tidak mau menceritakan tentang dirinya, apalagi tentang Im- yang Sin-kiam-sut. Tapi dia anak yang cerdik, dapat menghubung-hubungkan persoalan, maka dengan suara berbisik dia berkata. "Tosu tua, apa kau lupa akan Lo tong Souw Lee? Siapa yang takkan mencari tempat persembunyiannya? Hek-hwa Kui-bo tentu akan senang mendengar bahwa aku dan Totiang mengetahui tempat tinggal kakek tua she Souw itu!" Share on Facebook Comments (RSS / ATOM) No comments yet. Why not make the first one! New Comment [Sign In] Name: _____________________ Comment: (You may use BBCode.) _________________________________________ _________________________________________ _________________________________________ _________________________________________ [ Comment ] _____________________ [ Search ] Recent Posts * KHO PING HOO | RAJA PEDANG | 49 * KHO PING HOO | RAJA PEDANG | 48 * KHO PING HOO | RAJA PEDANG | 47 * KHO PING HOO | RAJA PEDANG | 46 * KHO PING HOO | RAJA PEDANG | 45 * KHO PING HOO | RAJA PEDANG | 44 * KHO PING HOO | RAJA PEDANG | 43 * KHO PING HOO | RAJA PEDANG | 42 * KHO PING HOO | RAJA PEDANG | 41 * KHO PING HOO | RAJA PEDANG | 40 Categories * Kisah Spsg RAJAWALI (245) * JODOH RAJAWALI (237) * PENDEKAR LEMBAH NAGA (234) * Pdkr MATA KERANJANG (228) * NAGA SILUMAN (223) * PEDANG KAYU HARUM (221) * Spsg pedang Iblis (199) * ASMARA BERDARAH (184) * PETUALANG ASMARA (172) * ISTANA PULAU ES (166) * BU KEK SIANSU (163) * CINTA BERNODA DARAH (156) * PENDEKAR SUPER SAKTI (138) * SULING MAS (129) * MUTIARA HITAM (128) * PENDEKAR SAKTI (120) * PENDEKAR BODOH (119) * PENDEKAR REMAJA (107) * DARA BAJU MERAH (66) * PENDEKAR BONGKOK (61) * PEDANG AWAN MERAH (61) * RAJA PEDANG (49) * AYO BACA CERSIL (6) * RAJAWALI EMAS (0) * JAKA LOLA (0) * PENDEKAR BUTA (0) * Uncategorized (201) Navigation * BUAT PEMBACA : KALO GAK MERASA DIREPOTKAN BOLEHLAH SEKALI KALI KLIK IKLAN 2 DIBLOG INI ATO LINK DIBAWAH INI. KALO GAK, YA GAPAPA. ITU HAK ANDA SBG "PEMBACA" * RP.150 UNTUK PEMILIK BLOG + VIDEO PANAS.KLIK AJA DISINI ATAU + MP3 SEARCH DLL DISINI * CARI GAME + APLIKASI + THEME + MP3 + ANIMASI + VIDEO + Dll klik aja Best Free Mobile Sites * * GOOGLE INDONESIA * FOLLOW THIS BLOG * APP HANDLER TERBARU * INDEX MP3 DISINI * SMS GRATIS * KIRIM SMS DISINI * SMS GRATIS KELUAR NEGERI * free web counter bebj.com - free visitors browsers counter * HTML hit counter - Quick-counter.net * * What's my ip address, create your own visitors IP image Blogger templates and widgets * image.png * [IMG] * web analytics * Mywapblog * SEO Analysis * TOP-RATING * [IMG] BeOnTop.Mobi * Protected by Copyscape Online PlagiarismChecker * Protected by Copyscape Online PlagiarismChecker Copyright (c) 2012 CERITA SILAT | KHO PING HOO | CERSIL Mobile Blog. Powered by MyWapBlog.com Privacy Policy